dari baldi mopLantai.com : "jangan masuk ke neraka kerana sebiji bantal"

Saya: Moplantai
Penulis Tamu Saya: Ahmadzombie2

Hubungi Saya:
moplantai[AT]kroni.biz

Catatan Terkini
Arkib Moplantai
Terima Kasih Saya

+ reedzuan.com
+ khairulazizi.com
+ w4lyd.com
+ honeybiru.org



This page is powered by Blogger. Isn't yours?
Monday, February 14, 2005

BELASUNGKAWA: INTAN MAZWIN


Intan Mazwin di kiri sekali

Moplantai masih ingat kelibat lincahnya, ketika mula-mula Moplantai menyambut ketibaannya bersama 2 orang lagi pelajar junior lain di Stesen Shinkansen (Bullet Train) di Bandar F dahulu. Ditakdirkan kami dalam satu kursus dan fakulti yang sama. Cuma bezanya, kami berbeza umur dan tahun pengajian sahaja. Dia tinggal di tingkat empat kaikan (asrama antarabangsa universiti), sementara Moplantai di tingkat dua.

Perkara yang menjadi ingatan kekal Moplantai sehingga kini ialah kebaikannya. Seorang junior yang sangat menghormati senior dan sangat baik hati. Masih segar diingatan, Moplantai menjadi bahan eksperimennya untuk merasa makanan masakannya. Al-maklum, tinggal berjauhan dari keluarga di negeri orang. Maka, mahu tak mahu kami wajib belajar memasak sendiri. Apatahlagi keberangkalian untuk mendapatkan masakan Malaysia amat sukar. Setiap kali dia memasak, mesti ada ketukan di pintu. Sepinggan hidangan pasti dihulur kepada Moplantai. Kebaikan itu berterusan selepas kami membawa haluan masing-masing tinggal menyewa di apa-to (apartment) berhampiran. Jamuan makan mesti menjadi agenda di rumahnya bagi kami kelompok pelajar Malaysia yang hanya boleh dibilang dengan jari.

Dia tidak pernah malu untuk bertanya jika ada kesulitan dalam pelajaran. Sementalah kami dalam kursus yang sama. Ada diantara kuliah kami adalah sama. Sifat ramahnya menjadikan dia dikelilingi sahabat-sahabat dari negeri orang itu. Maka, amat mudah mendalami ilmu yang dipelajari. Oleh sebab itu, Moplantai juga selalu minta dia tunjuk ajar mana-mana kuliah yang Moplantai tidak faham. Moplantai tidak kira dia junior atau senior. Pegangan Moplantai kalau malu bertanya sesat jalan!

Kalau dia makan angin ke mana-mana, omiyage (hadiah) tidak pernah tidak sampai ke rumah. Ada saja yang dibelikan. Bukan sahaja kepada Moplantai tetapi sahabat-sahabat Malaysia yang lain.

Begitulah suburnya ingatan Moplantai terhadap semua kebaikannya. Kali terakhir Moplantai menemuinya ketika menghadiri Majlis Perkahwinan seorang daripada sempai (senior) di sebuah hotel di Kuala Lumpur. Rungutnya jalan di Kota Lumpur ini berbelit-belit. Itu yang membuatkan dia lewat sampai.Moplantai hanya ketawa mendengar rungutannya.

Itulah kali pertama dan terakhir Moplantai menemuinya selepas dia pulang bergraduat dari universiti. Sempat juga Moplantai memperkenalkan Suri Moplantai kepadanya, sementalah dia tidak dapat hadir dalam majlis bermakna kami tempohari. Hinggalah Moplantai dikejutkan satu SMS pada jam 2.30 petang Jumaat 11 Februari yang lalu. Dia terkorban dalam satu kemalangan jalanraya yang amat dahsyat di Grik Perak. Bukan setakat itu, Moplantai juga dikejutkan berita pemergian tiga orang adiknya sekaligus ke Rahmatullah dalam kemalangan itu.

Salam takziah buat Kapten Mohd. Imran Abdul Hamid dan Puan Che Saleha Che Abdul Rahman sekeluarga. Moplantai berdoa agar mereka sekeluarga diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi dugaan ini.

Buat Intan Mazwin Mohd. Imran (juga buat ketiga-tiga orang adikmu), Moga roh kalian dirahmati Allah dan di tempatkan bersama-sama orang yang beriman. Amin.

Moplantai - Satu kesedihan yang maha panjang. Al-Fatihah!

http://www.bharian.com.my/m/BHarian/Sunday/Mukadepan/20050213093912/Article/
http://kamal.fotopages.com/
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Tuesday, February 01, 2005

RAMBUT

Moplantai dulu masa lahir tak ada rambut. Tapi tidaklah sehingga sampai botak licin. Tapi gondol jugalah. Rambut Moplantai masa kecil agak lurus ikut DNA Mak. Tapi bila semakin besar dan dewasa rambut Moplantai mula nampak ikal. Betullah kata Mak, selalunya anak sulong macam Moplantai akan mewarisi rambut ikal dan luas dahi Abah.

D pula masa lahir ada rambut. Rambut kerinting macam mee Maggie. D suka simpan rambut "maggie mee"nya panjang sampai mencecah pinggang. [baca:Moplantai tak pernah nampak lagi rambut D panjang sampai ke pinggang!]. D marah kalau Moplantai selalu sakat D dengan nyanyian lagu iklan Mee Maggie; "mie maggie sedap dimasak sedap dimakan!". Secubit dua pasti membekas pedih di peha. Senda gurau sahaja. Bukan untuk menghina. Tapi untuk mengikat kukuh kasih-sayang.

Moplantai sudah terfikir, macamanalah agaknya rambut zuriat kami nanti. Moplantai agak mungkin rambutnya macam Mamanya masa kecil dan mengikut papanya masa besar. Takpun botak licin tanpa sehelai rambutpun? Membeli belah barangan keperluan bayi nanti tentu jadi lucu. Bayangkan kalau papanya berkeras tak mahu membeli syampu rambut bayi. Sedangkan Mamanya yakin bayi kami ada rambut dan syampu diperlukan.

Moplantai: Makin luas dahi!

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -